Kepemimpinan Itu Amanah


Membangun dan mengembangkan sebuah perusahaan jelas bukan persoalan mudah. Teramat banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu, kepemimpinan yang andal mutlak dibutuhkan. Tantangan yang sama tak terkecuali dihadapi pula oleh pucuk pimpinan PT Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi.  Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana peran kepemimpinan dalam pengembangan perusahaan, berikut wawancara SINDO dengan peraih gelar CEO terbaik 2010 versi majalah SWA ini.

Menurut Bapak, seperti apa perspektif kepemimpinan itu?
Menurut Quran dan Hadis, kepemimpinan itu amanah Allah kepada kita, manusia. Lihat saja misalnya tafsir Al-Baqarah 30. Jadi, kepemimpinan itu meliputi semua individu dari hamba sahaya hingga pemimpin negara. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa hamba sahaya pun seorang pemimpin yang memiliki amanah dan tanggung jawab. Di Bank Syariah Mandiri kami membangun paradigma yang sama. Semua orang memiliki amanah sebagai pemimpin dan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di kemudian hari.

Prinsip dasar apa yang harus dimiliki pemimpin?
Mari kita merujuk pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30-37. Ayat itu bercerita tentang bagaimana Allah SWT setelah menyatakan akan menjadikan Adam sebagai khalifah (pemimpin) di dunia, lalu mengajarkannya ilmu pengetahuan. Dari cerita itu kita bisa menarik pelajaran bahwa untuk memimpin butuh ilmu pengetahuan.
Setelah Adam berpengetahuan, lalu Allah meminta para malaikat untuk sujud kepada Adam. Malaikat pun sujud. Ini merupakan simbolisasi bahwa orang yang berpengetahuan pasti akan menjadi pemimpin atau diikuti oleh orang-orang yang kurang berpengetahuan.
Karena itu, wajar sekali, jika ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah ayat “Iqra” yang artinya “Bacalah!”. Bukankah membaca itu gerbang ilmu pengetahuan? Lalu Adam di tempatkan di surga. Salah satu tafsirnya adalah bahwa hal ini merupakan semacam magang bagi Adam. Untuk menjadi bekal bagi Adam untuk memimpin dunia, Allah menambah pengetahuan Adam tentang realitas ideal sebagaimana surga yang penuh ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan, dan sebagainya, yang harus menjadi referensi bagi Adam saat nanti memimpin atau membangun dunia.
Ini semua dengan satu syarat bahwa Adam tidak boleh zalim, yang disimbolkan tidak mendekati pohon “kezaliman.” Tapi, terayata Adam memakan buah “kezaliman” itu. Ini bermakna bahwa pengetahuan saja ternyata tidak, cukup untuk menjaga Adam dari kezaliman. Karena itu, Allah lalu menambahkan lagi ilmu “kalimat” kepada Adam. “Kalimat” itu patut kita maknai sebagai wawasan tentang moral, hikmah atau kearifan. Di dalamnya tercakup apa saja yang berkaitan dengan komitmen hati dan jiwa.
Dari metafora itu, kita patut mengambil pelajaran bahwa untuk menjadi pemimpin itu dibutuhkan dua hal utama, yaitu pengetahuan dan moral atau hikmah atau kearifan. Tapi, untuk menjadi pemimpin yang kuat, yang transformasional, seperti para nabi dan para pemimpin besar peradaban, diperlukan satu karakter lagi, yaitu keberanian. Karena, perjuangan transformasional selalu menghadapi risiko dan orang-orang yang incomfort zone, yang resisten, dan antiperubahan. Jadi, kalau ketiga karakter itu ada (knowledge, wisdom, courage), insya Allah lengkaplah kualitas kepemimpinan itu.  

Apa saja tantangan terbesar bagi seorang pemimpin?
Perubahan lingkungan yang semakin dinamis. Di lingkungan perusahaan misalnya, tantangan di internal perusahaan adalah keadaan bawahan yang ilmu dan budayanya berbeda dengan kita. Dengan pendidikan orang-orang sekarang yang sangat terbantu oleh teknologi, mereka bisa jauh lebih knowledgeable dari kita. Karena itu, kita harus juga terus memutakhirkan wawasan. Sementara di eksternal, tantangan itu adalah iklim kompetisi yang semakin dinamis. Semua itu membutuhkan kemampuan pemimpin yang semakin kuat pada tiga unsur itu, yakni pengetahuan, kearifan, dan keberanian.

Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan sehingga seorang pemimpin perusahaan bisa berperan efektif?
Saya sependapat dengan pandangan Stephen Covey bahwa pemimpin harus mampu menjalankan empat peran sekaligus, yaitu peran sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya, dan panutan. Kalau bisa menjalankan empat-empatnya. saya kira seluruh jajaran akan segera mengikuti visi dan ritme kerja pemimpinnya.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang bisa membuat sebuah perusahaan berkembang dengan cepat?
Yang kita inginkan adalah berkembang dengan cepat dan sustain (berkesinambungan). Untuk ini saya memjuk pada hasil penelitian Jim Collins yang dituangkan di dalam bukunya yang fenomenal itu Good to Great. Menurut Collins, dan ini saya setujui, pemimpin yang menciptakan pertumbuhan yang berkesinambungan adalah tipe pemimpin tingkat lima (Level 5 Leader). Kepemimpinan tertinggi model Collins ini merupakan kepemimpinan yang langka.
Mereka yang masuk tipe kepemimpinan seperti ini memiliki semua karakter pemimpin tingkat 4, yaitu ambisius, cerdas, dan memiliki sifat lain yang antagonistic yaitu humility (kebersahajaan). Jadi, level 5 leader itu adalah pemimpin yang mampu memadukan professional will dan humility, dua karakter yang bertolak belakang. Karena kedua karakter itu saling bertentangan, maka tidak mudah membangun karakter pemimpin tingkat lima itu.
Pemimpin level 5 akan menyalurkan egosentrisme dan membangun glory untuk perusahaan bukan untuk dirinya; mempersiapkan pengganti yang lebih baik; menerapkan standar kualitas kerja yang tinggi; rajin dan cekatan -lebih seperti kuda pekerja ketimbang kuda hias; tidak menonjolkan diri, dan mengecilkan peran dirinya sendiri.
Pemimpin seperti ini sangat langka. Karena, hasrat dan ambisi pribadi yang menjadi modal seseorang naik ke jabatan yang lebih tinggi umumnya justru menjauhkan dia dari sikap rendah hati atau kebersahajaan (yang diperlukan untuk menjadi pemimpin tingkat 5).
Sementara itu, pemilik perusahaan (pemegang saham) cenderung memilih direktur/CEO yang menonjol, ambisius, dan ego-sentris untuk membuat perusahaan menjadi hebat. Direksi cenderung melakukan hal yang sama ketika memilih pemimpin-pemimpin di perusahaannya. Itulah sebabnya mengapa pemimpin yang umumnya ada hanyalah pemimpin tingkat 4 saja.

Dalam mengembangkan perusahaan, sebaiknya pemimpin perusahaan harus memprioritaskan apa?
Sebetulnya, prioritas perusahaan itu bisa dilihat dari vision statement-nya. Karena itu, di Bank Syariah Mandiri, para pemimpin harus paham betul visi perusahaan. Visi kami adalah mendapatkan kepercayaan dari seluruh mitra usaha. Mitra usaha itu meliputi nasabah, pemegang saham, karyawan, supplier, regulator, dan masyarakat umum. Kata kunci dari visi kami adalah “kepercayaan.” Kami yakin ini cocok dengan tesis-tesis yang berkembang belakangan ini. Misalnya, pandangan Francis Fukuyama dan tokoh-tokoh pemikir tentang sosial kapital, yang meyakini bahwa trustworthiness yang kuat akan menciptakan keunggulan kompetitif bangsa-bangsa, perusahaan, atau komunitas. Karena, trust itu melahirkan kecepatan dan efisiensi.

Apa yang perlu dilakukan pemimpin dalam membentuk tim solid yang akan membawa maju perusahaan sesuai visi perusahaan?
Sebagaimana saya katakan tadi tentang pentingnya kepercayaan, tim yang solid pun dibentuk dengan kepercayaan (trust). Jadi, budaya saling percaya itu harus kita bangun. Semua jajaran harus saling bisa dipercaya, baik secara kompetensi maupun integritasnya. Kami terus membangun budaya untuk menghormati pegawai yang amanah, bisa dipercaya, dan sebaliknya untuk tidak toleran kepada pegawai yang sudah diberi kepercayaan, tapi khianat.

Ada kalanya pemimpin perusahaan kurang mendapatkan kepercayaan dari pegawainya. Kira-kira apa yang menyebabkan itu terjadi dan bagaimana mengatasinya?
Penyebabnya bisa macam-macam. Tapi, untuk memudahkan analisa, kita bisa menggunakan kerangka kualitas pemimpin yang saya sebutkan di awal tadi yaitu pengetahuan, kearifan, dan kebe ranian. Kalau seorang pemimpin lemah pada karakter-karakter itu, kemungkinan kepemimpinannya tidak efektif. Alhamdulillah, kepercayaan pegawai Bank Syariah Mandiri terhadap pemimpinnya sangat baik. Riset yang diselenggarakan oleh majalah SWA, Synovate dan Dunamis, menunjukkan komitmen karyawan Bank Syariah Mandiri kepada pemimpin cukup tinggi,yakni 96,92. Artinya mereka cukup percaya kepada kepemimpinan saya. Saya kira survei ini objektif karena penyelenggara survei langsung mengirimkan kuisioner ke karyawan tanpa saya ketahui. Kepercayaan yang tinggi itu, Alhamdulillah menjadi salah satu komponen penilaian sehingga saya ditetapkan sebagai The Best CEO 2010. Karena itu, saya berterima kasih kepada insan-insan Bank Syariah Mandiri.

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam pengembangan kepemimpinan dalam sebuah perusahaan?
Tentu saja tanggung jawab melekat pada semua orang. Hanya saja kadarnya berbeda. Ada yang memiliki tanggung-jawab kecil, ada yang memiliki tanggung jawab besar. Di Bank Syariah Mandiri, masing-masing kepala unit kerja, dari yang paling junior hingga yang paling senior memiliki tanggung jawab kepemimpinan yang jelas. SOP-nya mengatur demikian. Yang pasti, semakin tinggi jabatan, tanggung jawab semakin besar. Saya pribadi sebagai CEO pasti memiliki tanggung jawab paling besar terhadap berjalannya organisasi. Akhirnya, sebuah organisasi akan dipercaya oleh seluruh stakeholders-nya bila organisasi tersebut beserta seluruh jajaran di dalamnya mampu mempertanggungjawabkan amanah yang diembannya.

Kira-kira mana yang lehih baik, membuka lamaran untuk menempati posisi pemimpin perusahaan atau promosi dari internal?
Sangat relatif. Itu tergantung pada kebutuhan perusahaan dikaitkan dengan kualitas calon yang akan direkrut. Kalau bisa dipenuhi oleh orang dalam, itu lebih baik. Kalau tidak bisa, jangan memaksakan diri. Ambil orang terbaik dari luar untuk menjadi penyegar perusahaan juga tidak salah. Hal yang terpenting, ujungnya adalah untuk kebaikan perusahaan.
(hermansah/Seputar Indonesia)

Popular Posts