Pengusaha dan Wirausaha

Suatu hari pernah datang ke rumah saya serombongan tamu yang mengaku sebagai para PENGUSAHA. Mereka datang dengan mobil mewahnya masing-masing dan bergaya sedikit arogan.
Saya tanyakan apa maksud kedatangan mereka, katanya mau mengajak saya masuk dalam Club mereka , CLUB PENGUSAHA.
Setelah berbincang panjang lebar mereka menyampaikan salah satu keuntungan jika saya masuk dalam Club mereka adalah bisa berbagi informasi PROYEK.
Ada beberapa pertanyaan mereka yang sedikit mengganjal di hati saya;

Pertama, mereka menanyakan : "Apa saja proyek yang Bapak sedang kerjakan saat ini?"
Saya jawab : "Saya hanya punya satu proyek saja, yaitu PEMBERDAYAAN MANUSIA".
Mereka sedikit kurang paham dan bertanya lagi : "Maksud Bapak Bisnis Jaringan yang Bapak geluti saat ini?", sambil mereka mengerutkan dahi.
Saya jawab : "Iya, betul...! Ada yang salah...?".
Mereka meberi penjelasan lagi : "Maksud saya Pak, Proyek Besar dalam Bisnis Real, maaf bukan yang jual menjual produk seperti dalam Bisnis Jaringan".

Saya merasa tertantang dengan pernyataan mereka yang seperti itu, yang tadinya saya duduk santai kemudian saya merubah posisi duduk menjadi condong maju mendekat ke mereka dan menatap satu per satu mata mereka sambil mengumpan balik pernyataannya, dengan tegas saya sampaikan : "Bapak-bapak yang terhormat, saya cukup mengerti kenapa Anda melihat Bisnis kami bukanlah sebuah PROYEK, dan Andapun beranggapan bahwa ini bukan Bisnis NYATA, karena semata-mata Anda melihat aktifitas kami berjualan produk yang harganya puluhan atau ratusan ribu saja, bukan yang milyar-milyaran.
Sebenarnya BERJUALAN adalah aktifitas TERKECIL di Bisnis kami, membangun JARINGAN adalah PROYEK JANGKA PANJANG kami yang sebenarnya. Saya tahu berapa BESAR nilai Proyek Anda, tapi yang jelas faktor pengalinya belum tentu besar, dan sifatnya temporer saja. PROYEK kami nilainya memang kecil tapi FAKTOR PENGALINYA sangatlah BESAR, dan tentunya BERKESINAMBUNGAN".
Mereka masih tidak paham, bahkan menutup diri saat saya akan jelaskan lebih detail lagi, tapi tidak masalah bagi saya.
Ada pertanyaan yang sedikit fulgar dari mereka : "Berapa PROFIT Bapak setiap bulan?". Sebelum saya jawab, saya beranjak ke ruang kerja untuk mengambil sebendel kertas dari kantor pajak ; "Ini pajak yang saya bayar setiap bulannya, saya yakin Anda tahu kira-kira berapa nilai PROYEK saya".
Salah satu dari mereka mengatakan : "Wow, Besar sekali Pak... apakah tidak sayang pajak yang dibayar sebesar itu?". Saya tidak tahu apa maksud mereka, saya hanya bisa katakan : "Alhamdulillah... tidak apa, yang penting kan masih ada sisanya yang lebih BESAR...?!".

Yang kedua,  jika saya tidak memiliki PROYEK REAL (menurut sudut pandang mereka), maka saya belumlah layak dianggak sebagai seorang PENGUSAHA.
Saya tidak ambil pusing dengan anggapan mereka, mungkin mereka masih awam saja dengan pola saya berbisnis.
Iseng-iseng saya tes mereka, sebenarnya mereka para PENGUSAHA atau BUKAN dengan beberapa pertanyaan ;
- "Pak, seandainya Handphone atau Alat komunikasi Bapak disimpan dan Bapak tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun dalam waktu satu minggu, apakah BISNIS atau PROYEK Bapak tidak terganggu...?"
- "Pak, seandainya saya ajak jalan-jalan ke luar negeri selama satu sampai dua bulan apakah BISNIS atau PROYEK Bapak masih tetap bisa jalan...?"
- "Maaf Pak, jika jawabannya TIDAK maka menurut devinisi kami, Bapak-Bapak semua belumlah bisa dikatakan seorang PENGUSAHA, sebesar apapun BISNIS atau PROYEK Anda maka Anda masih dikatakan seorang WIRAUSAHAWAN, karena Anda masih punya keterikatan waktu. Bukan kami mau menggurui, yang namanya PENGUSAHA itu tidak terikat tempat dan waktu, ada atau tidaknya mereka tidak berpengaruh pada BISNIS-nya, karena mereka sudah memiliki SYSTEM, dan SYSTEM-lah yang bekerja untuk mereka".

Sebelum mereka berpamitan, mereka sempat saling bertatap mata satu dengan yang lain tanpa sepatah kata. Semoga suatu saat mereka lebih terbuka.

Salam Freedom.....

Rivai Djatmika

Popular Posts