Bila kematian datang

Bila Kematian Datang, Sudahkah Kita Bersiap Menyambutnya

Berhati-hatilah dengan lisan tanpa kita sadar akan bawa kesulitan saat diri sudah tinggal di bawah nisan.

Berhati-hatilah dengan tutur, tanpa kita tau seberapa berat siksa di dalam kubur.

Berhati-hatilah dengan mulut tanpa terasa ajal sudah datang menjemput.

Berhati-hatilah dengan lidah tanpa kita sadar tiba-tiba kita sudah tertimbun tanah.

Berhati-hatilah bersikap tanpa kita sadar sikap yang ada hadirkan azab.

Berbenah diri menjadi kewajiban agar mendapat kemuliaan sampai raga tak mampu lagi untuk digerakkan.
kala kubur menjadi tempat tidur.
Kala nisan menjadi kawan.
Kala liang lahat menjadi sahabat.
Dan kala amal menjadi bekal.

Rasulullah Saw mengingatkan dalam sabdanya. "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah Swt yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah Swt keridhoan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat.

Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat."
(HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Pernahkah kita renungkan hal itu kawan...

Kematian merupakan sebuah kisah kepastian yg tak ada yg mampu merubah skenario Nya.
Air mata, duka nestapa tak mampu hentikan alur yang sudah ditetapkan Nya.

Ingatlah pada sebuah kampung di mana kita berasal. Ingatlah pada sebuah kampung di mana kita akan tinggal.
Ingatlah pada sebuah kampung di mana kita akan hidup kekal.

Langkah-langkah kaki dalam mengisi hari. Langkah-langkah kaki menapaki jalan Ilahi. Adalah langkah menuju kehidupan hakiki.

Janganlah merasa bahwa di dunia ini adalah tempat tinggal kita.

Janganlah merasa bahwa di dunia ini kita akan hidup selamanya.

Bila kita mampu menyadari.
Bila kita mampu memahami.
Bahwa yang hidup akan mati.
Bahwa yang hebat menjadi tak berarti.
Dan semua akan kembali.

Sudahkah kita mendesign akhir hidup kita?
Sudahkah kita mengukir sejarah dengan banyak berkarya?
Sudahkah kita berjuang tuk tegakkan kalimat Nya?
Dan sudahkah kita berkorban dengan segala yang kita punya?
Seperti apa kematian kita?

Rancang dari semula. Hingga sesal tak lagi ada.
Hingga mulia jadi karunia.
Hingga syahid menjadi nyata.
Setiap detik yang kita lalui mari jadikan jembatan menuju surga.
Setiap waktu yang kita lewati jadikan sejarah yang tak lekang ditelan masa.

Berkiprah dan berkontri busi di jalan Allah ini adalah bagian dari rekayasa menjemput kematian. Apakah kita mati di jalan kebaikan atau kita mati dalam kesia-siaan.

Semoga jalan dakwah ini yang jadi pilihan.
Hingga Allah datangkan sebuah ketetapan.

Wallahu musta'an

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Pemateri: Rochma Yulika

Popular Posts